Anda WNI atau Pernah Jadi WNI?
Bacalah sejenak tulisan ini untuk meraih cinta kasih dari Ibu Pertiwi….

Telinga ini entah berapa lama lagi sanggup mendengarkan berbagai cacian dan hinaan dari putera puteri pertiwi sendiri akan kebijaksanaan dan nasib ibu pertiwinya. Begitu berat derita yang mesti ditanggung Ibu, sampai-sampai generasi yang semestinya menjadi penyangga utama kedaulatan negeri yang diraih, justru hanya bisa mengkambinghitamkan bumi pertiwi. Indonesia boleh saja berbangga dengan total populasi besar yakni mencapai 240.271.522 jiwa (per Juli 2009) yang lahir dari rahim ibu pertiwi. Tapi, seberapa banyakkah dari total ini yang bangga menjadi bagian bangsa besar ini? Seberapa besar kecintaan mereka untuk memajukan bangsa atau setidaknya ikut andil dalam pemeliharaan kemerdekaan? Seberapa banyak dari mereka yang berani berada di barisan terdepan saat pihak luar hendak melukai ulu hati ibu pertiwi kita? Seberapa banyak dari mereka yang mau bersabar menunggu datangnya perubahan pada negeri tercinta ini? Atau apakah ada salah seorang dari jumlah sebesar itu yang siap mengacungkan tangannya tatkala dimintai untuk mengajar di desa-desa terisolir tanpa digaji? Adakah blogger Indonesia yang mati-matian mengumpulkan beragam informasi penting hanya semata-mata memudahkan rakyat Indonesia memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tanpa berbentuk komersialisasi? Saya lebih sering melihat cintanya penjual Koran dan penghuni bawah jembatan ketimbang “orang-orang besar” yang juga hidup di negeri kaya ini. Memang, tanda-tanda bangsa ini untuk mencapai kemakmuran masih sangat buram. Khusus untuk hal ini, Semua pakar-pakar Ekonomi secara serius bersama-sama menyikapi masalah ini melalui terus-menerus mencari akar permasalahannya. Hasilnya, Nihil alis Nol Besar!. Saya juga bingung, pernahkah terlintas di benak para Ekonom kita untuk mencoba berandai-andai jikalau saja orang-orang “ berperut buncit” yang membebankan bumi pertiwi mau tuk berbagi barang sedikit kesenangannya dengan para saudara senegaranya? Jangan katakan pastilah mereka tidak mau, tapi katakanlah kamu harus mau. Kamu hidup di negeri kami, menikmati sendiri kemewahan dari Anugerah Tuhan yang semestinya buat bersama, rumah mewahmu berdiri persis di depan tempat kami menggali cacing-cacing tanah untuk lauk anak istri kami, tatkala sakitpun tak banyak yang mau menolong selain kami ini, dan yang pasti ketika dirimu terasa terancam akan ketidakamanan negeri ini kamilah, dereteran orang siap mati yang mau dan rela menjadi perisai bagimu. Lantas, apakah semuanya itu tidak pernah menggugah perasaanmu barang sedetik pun? Apakah pengorbanan kami hanya engkau artikan sebagai ungkapan si pengemis tua yang menadahkan tangan untuk meminta uang receh? Tidak, engkau salah. Dasar kami berbuat ini adalah ikrar generasi sebelum kita yang juga ahli waris dari bumi nusantara ini yang tertuang dalam sila ke-3 dari dasar negera ini, Pancasila. Kamu sudah lupa? Wajarlah kalau begitu. Engkau tidak salah bila berbuat itu, kami pun tidak berdosa bila menendang engkau keluar dari negeri ini. Tidak ada alasan lagi buat kami menyesal melakukan itu, saudaraku. Sikapmu jelas bukan merupakan bagian dari kami!

Saudara, lihatlah negeri ini. Kegembiraan perayaan hari kemerdekaan belum sepenuhnya menjadi bagian seluruh rakyat Indonesia. Di kota-kota besar, boleh saja bila mengatakan bahwa suasana kota mendadak gemerlap penuh kolaborasi warna sang saka. Tapi cobalah datangi tempat-tempat yang juga bagian dari negeri ini, bedanya lokasinya amat jauh dari perkembangan dan pembangunan negeri. Tidaklah berbeda hari sakral ini dengan hari-hari pada lazimnya. Bahkan, yang menyayat hati ialah ketidaktahuan mereka bahwasanya di pertengahan bulan Agustus terdapat hari dimana seharusnya ia bergembira ria. Pernahkah kita menjelaskan kepada mereka bahwa bangsa Indonesia dulunya terluka dan teraniaya, dan baru merasakan hidup sebagaimana mestinya setelah diproklamirkannya kemerdekaan bangsa, dan harinya tepat terjadi di bulan ini, 17 Agustus 1945? Bagaimana bisa dikatakan hari perayaan besar bangsa bila yang ikut merayakannya hanya separuh dari bangsa. Benar ada tidaknya mereka perayaan ini tetap juga bisa berjalan, tapi bagaimana dengan janji kita pra kemerdekaan? Berjuang bersama-sama, mengarungi segala suka dan duka secara bersama sehingga kalau-kalau nantinya bisa menikmati merdeka bersama-sama pula. Ironisnya, janji ini tidak pernah terlaksana. Generasi tua mereka telah dibohongi oleh kita. Dan hebatnya, berkat didikan ibu pertiwi mereka mampu pasrah sekaligus berdo’a bagi kejayaan negeri. Inilah balasan respon mereka akan ketidakadilan negeri. Mereka rela berpisah dari hangatnya pangkuan ibu pertiwi untuk mencari nafkah di negeri orang dimana tidak selamanya menawarkan rasa aman, nyaman dan senang. Tenaga mereka terkeruk untuk mempertinggi timbunan devisa tanpa menghiraukan tangis luka mereka. Inilah yang sebenarnya mutiara-mutiara negeri, bukan kita. Ini pulalah masalah yang saharusnya dibenahi. Pertanyaan saya sebagai generasi muda di negeri ini, apakah kondisi ekonomi ini sudah sekian parah sehingga tidak mampu lagi menghidupi para jiwa yang menumpang menghirup udara di sini?
Benar memang pemerintah telah berlaku picik dan brutal. Benar memang pemerintah negeri ini memegang rekor dunia sebagai Negara ke-37 dalam kategori Negara dengan tingkat korupsi tertinggi. Satu level di bawah Negara Komunis Rusia. Tapi tidakkah kalian memikirkan bahwasanya masih ada barang satu atau dua bahkan lebih aparat pemerintah yang bersih dan pro rakyat di sana? Kekurangan dukungan dalam melakukan perjuangan dan dobrakan. Kita seringkali melakukan generalisasi dalam hal ini. Kita selalu berasumsi bahwa bila ia Pejabat pastilah doyan buat maksiat. Ketahuilah, bangsa kita ini tidak sekotor yang orang luar anggap. Masih banyak Pejabat baik di jajaran regional ataupun pusat yang takut akan sanksi Tuhan. Pejabat takut Tuhan pastilah tidak akan pernah berani menjadikan praktek korupsi dan bisnis culas untuk memperkaya diri dan keluarganya! Bukankah kita bersama-sama melihat bagaimana konsentrasi pemerintah dalam menekan gerak suatu oknum untuk berkorupsi ria. Penambalan celah-celah pada prosedur perizinan, sistem keuangan dan birokrasi telah banyak dilakukan dan sebagian besar berhasil. Pemerintah sudah mampu garang dengan para pelakunya meskipun di dalam sistem pemerintahan punya posisi penting lagi menakutkan. Satu per satu para koruptor dijebloskan ke penjara. Ini lah yang saya maksud sebagai pertanda baik buat masa depan negeri ini. Pemerintahan yang berani merupakan kunci dalam menekan distorsi kewenangan penguasa yang menyimpang. Melihat hal ini, sudah barang tentu senyum akan mulai tersimpul dari bibir Ibu Pertiwi. Menghiasi cakrawala nusantara untuk segera menyambut Pemerintahan yang bersih. Semoga.

Benar pula bahwasanya hingga detik ini dari perut Ibu Pertiwi belum Nampak tanda-tanda kelahiran bocah pribumi yang memiliki otak menyamai Albert Einsten, Archimedes, Isaac Newton atau setidaknya Bill Gate, si Pemilik Perusahaan Microsoft. Tapi tidakkah kita berpikir untuk perlunya menyukuri nikmat Tuhan yang telah menganugerahi negeri ini dengan barisan putera puteri gagah berani, cinta negara, takut Tuhan, berilmu dan memiliki niat mulia untuk membawa negeri ke gerbang kemakmuran terdepan melalui kemerdekaan? Kapitan Pattimura, R.A Kartini, Ki Hajar Dewantara, Cut Nyak Dien, K.H Ahmad Dahlan, Dr. Ferdinand Lumban Tebing, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Dr. Wahidin Sudirohusodo, Dr. Muhammad Hatta, Ir. Soekarno dan barisan pejuang pemberani lainnya di berbagai pelosok negeri merupakan bukti bahwa negeri ini tidak kurang hebat dengan bangsa lain. Perjuangan mereka tidak bisa dinilai atau dirangkum dalam satu buku tebal. Ketahuilah, Indonesia tercatat sebagai Negara penghasil orang-orang cerdas. Tidak kurang 1000 bayi cerdas terlahir sebagai warga Negara Indonesia per tahunnya, sama seperti kita. Bila nyatanya seperti ini, masih pantaskah orang menyebut bangsa beserta rakyatnya sebagai Negara yang ter….belakang, terbodoh, terpencil, terisolir, termiskin dan terkekang kebebasannya? Akuilah, jangan malu mengatakan bahwa kita adalah bangsa berbudi dan beradab.
Tidak perlu mengembalikan bangsa ini ke era Majapahit atau Sriwijaya untuk membuktikan bahwa bangsa ini hebat. Kita tidak perlu menunggu, karena kita memang bukanlah bangsa penunggu. Kita mengejar. Masa depan bangsa ini hendaklah kita tatap dengan optimis. Jangan langsung patah arang hanya karena barusan saja dijadikan target terror. Pasca aksi terror yang baru-baru ini memenuhi halaman depan berbagai surat kabar, sudah sepatutnya kita menginstropeksi diri bahwa rasa kebersamaan antar etnis di Indonesia mulai luntur. Era modernisasi dan saudaranya Globalisasi menjadikan kita hanya mementingkan diri sendiri. Tidak jarang kita senegara tapi tidak saling mengenal. Inilah celah yang dimanfaatkan para penebar terror untuk menyusup dan menjalankan aksinya. Siapa yang salah dan patut dituntut, bukan aparat keamanan apalagi Densus 88 tapi kita lah. Lantas siapa yang mampu menghentikan semua ini? Tentu kita lah.
Nasib Indonesia semestinya tidak hanya ada di hati tapi juga di pikiran kita. Pasalnya, bukan hanya eksistensi yang diperlukan tapi juga suatu perubahan signifikan. Jangan pernah berhenti berpikir untuk mencari dan mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki. Ketahuilah, jatah kita untuk hidup di negeri ini amatlah sebentar. Dapatkah kita bisa memanfaatkan keterbatasan waktu ini untuk menciptakan suatu hal yang besar? Sangat rusak pola pikir seseorang yang beranggapan bahwa dengan kelengkapan persenjataan militer yang serba mutakhirlah negeri ini bisa disegani, hanya dengan pondasi perekonomian yang kuatlah masa depan cerah negeri ini bisa diprediksi, hanya dengan menyedot investor asing tanpa pilih-pilih keterpurukan kondisi perekonomian rakyat bisa ditanggulangi. Saya tidaklah berpendapat bahwa semuanya itu kurang perlu, semuanya memang perlu tapi sadarkah kita bahwa ada indikator pokok yang seharusnya memiliki porsi perhatian lebih ketimbang itu semua yakni rasa memiliki negera ini yang disokong dengan persatuan dan kesatuan berbagai etnis yang menghuni tiap jengkal bumi pertiwi. Apalah artinya bila memiliki persenjataan yang memadai, bila kebanyakan pilot pesawat tempur hasil didikan ibu pertiwi memilih menjadi budak di negeri orang? Menggempur negeri sendiri lantaran menjalankan tugas? Apalah arti perekonomian yang kokoh dan stabil saat hantaman datang, bila sikap yang tumbuh di masyarakat hanya sifat konsumtif, hedonis, dan kurang peduli antar sesamanya? Apapula pengaruh membludaknya tawaran investor untuk berinvestasi di negeri ini bila motifnya sama seperti yang sudah-sudah yakni mengeruk kekayaan bumi pertiwi dan mengelantarkannya tatkala keutungan telah diraih. Dengan meninggalkan berbagai ancaman kerusakan lingkungan dan udara di cakrawala nusantara? Inikah yang kita inginkan? Apakah ini wajah Indonesia untuk generasi-generasi berikutnya. Bila benar, pesan saya kepada janin-janin yang masih di alam rahim untuk melakukan demo besar-besaran untuk menolak lahir di negeri ini. Jadilah kalian rakyat di negeri lain sehingga kalian tidak merasakan getir dan sedihnya menanggung beban hidup seperti kami, generasi terdahulumu yang teraniaya dan meminta mati.
Siapa yang bisa memberikan argumen sangkalan tatkala puluhan Negara di dunia menyebut bangsa Indonesia Negara peniru, Negara penghasil barang-barang imitasi serta tujuan ekspor beragam barang-barang bekas (second). Puluhan container berisi barang-barang yang dimaksud kini memenuhi beberapa pelabuhan negeri ini. Bukti ini cukuplah bagi mereka untuk membuat kita tidak berkutik. Tapi, masih ingatkah ketika kita duduk di bangku sekolah dimana sang guru memaparkan bagaimana kronologi bangsa Jepang bisa menjadi Negara maju seperti saat ini? Mereka menghargai gurunya serta haus akan ilmu pengetahuan meskipun untuk meraihnya untuk mengemis dengan Negara lain. Sejarah bangsa Jepang penuh akan aksi meniru akan kemajuan yang dicapai negera maju dunia. Namun, satu hal yang perlu kita luruskan ialah bahwa meniru yang dimaksud disini bukanlah yang 100% sama. Bila di dunia blogging kita menamainya, COPAS (CopyPaste). Tetapi meniru seberapa persen dari keseluruhan, selebihnya di modifikasi sendiri berdasarkan kreatifitas si peniru. Hasilnya, dalam jangka waktu beberapa tahun pasca kekalahannya pada PDII, Jepang menjelma menjadi motor penggerak inovasi-inovasi berbagai sektor Industri seperti Otomotif dan Pengolahan Barang Tambang, semuanya diawali dengan aktivitas meniru. Bagaimana dengan aksi meniru Indonesia? Sama saja, sifatnya positif dan tidaklah memalukan.

Indonesia memang sempat menjadi Macan Asia yang aumannya ditakuti terlebih oleh Negara-negara kawasan Asia Pasifik. Dan benar pula bahwa sekarang ini auman tersebut hanya terdengar layaknya meongan kucing hutan sakit. Tapi apakah kenyataan ini akan memupuskan harapan kita semua untuk bisa mengembalikan kejayaan yang pernah dicapai tersebut? Sang Macan Asia boleh saja kini tua renta dan tak sanggup lagi mengitari hutan rimba, namun bukankah ada anak Macan yang sewaktu-waktu akan tumbuh besar serta sanggup mengembalikan kewibawaan rasnya?. Lahirnya 4,5 juta “Bayi Macan” per tahunnya untuk ditempa menjadi pemimpin menjadi bukti nyata ketidakniscayaan guyonan ini. Mereka akan siap sedia mempertahankan tiap jengkal tanah pertiwi beserta kekayaan di dalamnya tanpa pamrih atau pun instruksi.

Satu hal yang menarik bersamaan dengan tibanya hari sakral (17 Agustus 2009) tentang perjalanan bangsa ini yakni kebangkitan negeri ini. Berbagai blogger banyak yang melayangkan prediksi mereka akan kebangkitan bangsa Indonesia suatu hari. Jejak komentar mereka pun dapat dengan mudah ditemui di berbagai situs pertemanan sosial atau pun forum tertentu. Namun, tidak jarang pula kita menemui komentar-komentar destruktif yang membikin hati panas dan memicu amarah meledak-ledak. Padahal, kita tahu misi utama mereka hanyalah untuk menghentikan laju semangat bangsa ini untuk maju dan bangkit dari tidur panjangnya. Siapa yang tidak takut akan kebangkitan bangsa Indonesia? Untuk itu kita harus lebih antisipatif dalam hal mencerna tiap anggapan-anggapan yang kita temui. Tidak ada lain dari dampak mereka menyebar hinaan dan cercaan tersebut melainkan untuk terus-menerus ingin melihat rakyat bangsa ini di bawah naungan kebijakan Negara lain, sebuah Negara besar yang langkah kakinya pun digerakkan pihak lain. Mereka kurang memahami gerak bangsa ini, kesadaran warga Negara negeri ini kian meningkat hari demi hari. Sikap siap merelakan apa pun yang dipunya untuk memelihara kedaulatan dan kehormatan negeri pun tampak nyata. Contohnya, tatkala kedaulatan negeri dirasa terancam oleh intimidasi pihak luar, tanpa dikomando puluhan ribu rakyat mengacungkan telunjuk sebagai tanda siap mengorbankan apa yang ia punya, apakah itu harta, senjata, tenaga, bahkan nyawa. Bangsa ini terutama rakyatnya harus bersyukur telah dikarunia saudara-saudara senegara yang memiliki rasa seperjuangan dan mau sepenanggungan . Bencana melanda di satu daerah, deritanya ditanggung di seluruh daerah nusantara. Ini adalah kekuatan dan jati diri bangsa yang telah mengakar. Tidak jarang bangsa maju menginginkan kondisi warga negaranya seperti halnya bangsa Indonesia. Ironisnya, kita tidak pernah menyadarinya. Saya yakin, suatu saat nanti akan terlahir dari rahim ibu pertiwi sang leader, sanggup membawa negeri ini mencapai puncak cita-citanya yakni menjadi bagian penting dalam tatanan dunia serta mampu mentransformasikan kemakmuran ke seluruh umat manusia di dunia pada umumnya dan terlebih rakyat Indonesia pada khususnya.
Tiada yang berubah dengan bangsa besar ini selain ketidakpercayaan dari pribadi-pribadi putra putri pertiwi akan agungnya bangsa ini. Tidak pernah terpikir oleh mereka bahwa hal fundamental yang melatarbelakangi kehebatan bangsa yahudi tidak lebih dari kepercayaan mereka akan kelebihan bangsanya sendiri. Mereka percaya akan kehebatan, kecerdasaran, dan “ras unggul” yang mengalir di tiap aliran darahnya, sehingga mendorong mereka untuk terus belajar dan bekerja. Sedangkan kita, pesimisme, kebodohan, putus asa, seakan-akan inilah yang diyakini sehingga menjadikan tiap hal yang kita kerjakan tidaklah menghasilkan sesuatu yang besar. Lihat saja contoh dialog Bapak dan Anak dari negera berbeda, Bangsa Yahudi dan Bangsa Indonesia.
Keluarga dari Indonesia, ayahnya bernama Budiman karena sudah jadi bapak maka dipanggil Pak Budiman. Anaknya bernama Joko. Joko punya ambisi besar. Sayangnya, tidak punya modal besar buat mewujudkannya.
Joko :”Bapak, seandainya Joko sudah besar, Joko akan menaklukan dunia dan mandi di air semua Samudera. Lantas menancapkan sang saka merah Putih tepat di puncak Gunung Himalaya. Bersamaan dengan itu, aku juga akan membangun sistem irigasi modern di tanah tandus seperti benua afrika dan sebagian Asia Tengah biar mereka tidak susah.”
Bapak :”Haha, bagaimana mungkin itu bisa, Ko. Kamu kan tidak bisa berenang, benci sama ular dan alergi sama iklim luar. Buat menancapkan sang saka merah putih di puncak Gunung Himalaya, bukannya kamu takut ketinggian? Dan mending kamu benerin saluran pipa ledeng kita yang tersumbat biar bisa mengalir lagi ketimbang bikin sistem irigasi modern di negeri orang. Bapak pesan sama kamu, jangan terlalu tinggi-tinggi bercita-cita, nggak baik. Kalau pun kamu bisa, kamu akan berjuang sendiri. Bangsa ini belum siap menghargai orang sepertimu. Biarlah orang yang lebih pas biar bisa mewujudkan impian-impianmu. Sekarang pergilah kebelakang rumah, bersihkan pipa tersumbat kemudian tidurlah!.”
Bandingkan dengan semangat yang ditransformasikan bapak dari kalangan Bangsa Yahudi bernama George kepada anaknya, Moses.
George : “Moses, Tuhan kita telah menakdirkan engkau sebagai manusia terpilih di negeri terpilih. Generasimu semuanya terpilih, sebagian dari mereka adalah raja-raja di berbagai penjuru bumi. Mereka pintar, licik, berani dan tangguh. Engkau pun harus begitu, meskipun tanpa kedua kakimu yang belum lama ini teramputasi. Kekuatan kita bukanlah dari otot kaki dan tangan, tapi di kepala kita. Jangan pernah lepaskan doktrin yang melekat di otakmu, akuilah kita bangsa terhormat dari dulu hingga kapanpun. Berjalanlah di atas muka bumi sebagai raja. Bumi adalah taklukanmu dan seluruh saudara Yahudimu adalah penolongmu”
Moses : “Baik, Pa. Semua pesanmu telah masuk dan terkunci di hati dan pikiranku. Beberapa masa lagi akan aku buktikan semuanya kepada Papa dan bangsa ini. Thanks a lot, Pa.”
Lihatlah, betapa bedanya nasehat dari kedua ras ini. Yang satu membenamkan cita-cita, dan satu membangun cita-cita. Keputusasaan seperti ini tersalurkan dengan baik oleh si Bapak dari bangsa Indonesia. Sedangkan kebanggaan yang menaungi bangsa Yahudi tersalurkan dengan baik kepada anaknya. Hasilnya, bila di Indonesia kegembiraan tertinggi sang Bapak ketika melihat anaknya berhasil jadi Tentara atau PNS bergaji seadanya, maka di Israel kegembiraan sang Bapak tatkala anaknya menjadi Ekonom bertaraf dunia, sekretaris PBB, Ilmuwan, Professor, Antariksawan, dan sebagainya. Kondisi ini pula yang dibenahi, bila di Israel mampu mencetak 1000 ilmuwan berbagai disiplin ilmu per tahunnya. Maka Indonesia harus mampu mencetak 100.000 Ilmuwan berbagai disiplin ilmu juga per tahunnya. Kita pasti bias!
Bulan Agustus, bulan yang hendaknya dimanfaatkan setiap warga Negara untuk memulihkan semangat untuk maju telah tiba. Tidak kurang hanya beberapa hari lagi. Meskipun berbagai prahara telah menimpa negeri ini pada 7 bulan sebelumnya, masih tersisa 4 bulan selanjutnya. Isilah 4 bulan ini dengan hal-hal berguna berbarengan dengan itu kita pun memanfaatkannya untuk mengoreksi dan membenahi rencana yang tertunda. Indonesia boleh saja menjadi sasaran utama Teroris, namun lari dan bersembunyi di negeri orang tentulah tindakan salah dan tercela. Indonesia masih aman, jauh lebih mampu memberikan rasa aman ketimbang negeri orang. Kita sudah cukup dewasa memandangi 7 bulan sebelumnya yang penuh gemuruh musibah dan konflik di berbagai penjuru negeri. Di bulan Agustus inilah hendaknya kita semuanya tanpa terkecuali menyudahinya, semua ini hanya akan menghasilakan kita sebagai pihak merugi. Untuk berubah kita perlu tekad kuat bersama. Bagaimana mungkin mobil akan melaju kencang bila di keempat rodanya puluhan lobang menganga?

Jujur, saya sendiri begitu tidak sabar melihat senyum rakyat negeri ini, di bulan ini. Betapa kuatnya ambisi mereka untuk mampu menaklukkan tingginya pohon pinang, betapa besarnya semangat mereka untuk tetap melangkahkan kakinya meskipun di kedua kakinya terkekang karung lomba, betapa kuatnya keyakinan mereka untuk sampai ke tujuan hanya sebagai pemenang. Adakah Anda merasakan hal yang serupa? Bila belum, ada yang salah pada diri Anda. Koreksilah secepatnya!, sebelum datangnya bulan Agustus berikutnya.
Nasib Pertiwi boleh jadi di antara Merah dan Putih, bukan Hitam dan Putih. Tapi itu bukanlah pertanda kerancuan tapi lebih tepatnya keragaman. Banyak kalangan menafsirkan bagaimana wajah ibu beberapa tahun ke depan di tengah hajaran arus globalisasi yang kian deras, tapi percayalah saudaraku. Ibu pertiwi lebih tahu akan nasibnya, ia lebih berhak menentukan mau jadi apa wajahnya. Namun yang pasti hanya yang terbaiklah nanti dipilihnya, demi kita semua.